Laman

Jumat, 15 Juni 2012

Makalah Prolaps Tali Pusat


BAB 1
PENDAHULUAN

       Prolaps tali pusat merupakan salah satu kasus kegawat daruratan obstetri. Prolaps tali pusat terdiri dari tali pusat terkemuka, tali pusat menumbung dan tali pusat tersembunyi. Insiden terjadinya prolaps tali pusat adalah 1:3000 kelahiran, sedangkan tali pusat tersembunyi 50% tidak diketahui. Myles melaporkan hasil penelitiannyadalam kepustakaan dunia bahwa angka kejadian prolaps tali pusat berkisar antara0,3% sampai 0,6% persalinan. Keadaan prolaps tali pusat mungkin terjadi pada mal presentasi atau mal posisi janin, antara lain: presentasi kepala(0,5%), letak sungsang (5%), presentasi kaki (15%), dan letak lintang (20%).prolaps tali pusat juga sering terjadi jika tali pusat panjang dan jika plasenta letak rendah. Mortalitas tali pusat menumbung  pada janin sekitar11-17% (Yusuf,2010).
       Prolaps tali pusat secara langsung tidak mempengaruhi keadaan ibu, sebaliknya sangat membahayakan janin. Tali pusat menumbung, dimana ketuban sudah pecah dan tali pusat berada di bawah bagian janin, keadaan tersebut membuat tali pusat  dapat terkena antara bagian terendah janin dan dinding panggul yang akhirnya menimbulkan asfiksia pada janin. Bahaya terbesar adalah pada presentasi kepala, karena setiap saat tali pusat dapat menjepit antara bagian terendah janin dengan jalan lahir sehingga mengakibatkan gangguan oksigenasi janin. Pada tali pusat terkemuka, sebelum ketuban pecah,ancaman terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi setelah ketuban pecah bahaya kematian janin sangat besar (Winkjosastro, 2007)







BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Pengertian
Prolaps tali pusat adalah tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketubah pecah (Saifuddin, 2008).
2.2         Pembagian prolaps tali pusat
Prolaps tali pusat dibagi menjadi:
1.    Tali pusat menumbung (prolapsus funikuli)
 Adalah jika tali pusat teraba keluar atau berada disamping dan melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir, tali pusat dapat prolaps ke dalam vagina atau bahkan diluar vagina setelah ketuban pecah.
2.    Tali pusat terdepan (tali pusat terkemuka)
 Adalah jika tali pusat berada disamping bagian besar janin dapat teraba pada kanalis servikalis, atau lebih rendah dari bagian bawah janin sedangkan ketubah masih intek atau belum pecah.
3.    Occult prolapse adalah keadaan dimana tali pusat terletak di samping kepala atau di dekat pelvis tapi tidak  dalam jangkauan jari pada pemeriksaan vagina. (Winkjosastro,2005).
2.3         Etiologi
1.    Etiologi fetal
a.    Sebagian besar dari tali pusat menumbung terjadi pada presentasi:
1)   Letak lintang
2)   Letak sungsang presentasi bokong, terutama bokong kaki.
b.    Prematuritas
Seringnya kedudukan abnormal pada persalinan prematur, yang salah satunya disebabkan karena bayi yang kecil.
c.    Gemeli
Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi gangguan adaptasi,frekuensi presentasi abnormal yang lebih besar.
d.    Polihidramnion
Ketika ketuban pecah, sejumlah besar cairan mengalir ke luar dan tali pusat hanyut ke bawah.
2.    Etiologi Maternal
a.    Disproporsi kepala panggul
Disproporsi antara panggul dan bayi menyebabkan kepala tidak dapat turun dan pecahnya ketuban dapat diikuti tali pusat menumbung.
b.    Bagian terendah yang tinggi
Tertundanya penurunan kepala untuk sementara dapat terjadi meskipun panggul normal.
3.    Etiologi dari tali pusat dan plasenta
a.    Tali pusat yang panjang
Semakin panjang tali pusat, maka semakin mudah menumbung.
b.    Plasenta letak rendah
Jika plasenta dekat serviks maka akan menghalangi penurunan bagian terendah. Disamping itu insersi tali pusat lebih dekat serviks.
2.4     Diagnosis
 Ibu tidak dapat merasakan adanya prolaps tali pusat pada dirinya. Masalh tampak ketika memonitor denyut jantung bayi yang menunjukkan penurunan denyut jantung (brakikardi), dan penemuan saat melakukan vaginal toucher. Alat bantu yang dapt digunakan antara lain: Doppler, kardiotograf, ultrasonografi. Gawat janin yang tampak dengan alat tersebut menunjukkan deselerasi variabel sebagai konsekuensi dari kompresi tali pusat. Diagnostik tali pusat menumbung lebih mudah ditegakkan ketika terlihat atau terabanya jerat tali pusat di dalam vagina yang terkadang sudah menjulur sampai diluar vulva. Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menegakkan diagnosa kemungkinan adanya tali pusat tersembunyi, letak terkemuka atau tali pusat menumbung. Janin yang masih hidup teraba tali pusat berdenyut sebaliknya pada janin yang sudah mati tali pusat tak berdenyut lagi (Winkjosastro, 2007).
2.5     Komplikasi
1.    Pada Ibu
Dapat menyebabkan infeksi intra partum, pecahnya ketuban menyebabkan bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua  serta pembuluh korion sehingga terjadi bakterimia dan sepsis pada ibu dan janin. Sedangkan pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina kedalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi distosia. Infeksi merupakan bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama(Chuningham dkk, 2005).
2.    Pada janin
a.    Gawat janin
Gawat janin adalah keadaan atau reaksiketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup.
Gawat janin dapat diketahui dari tanda-tanda berikut:
1)   Frekuensi bunyi jantung janin kurang dari 120 x / menit atau lebih dari 160 x / menit.
2)   Berkurangnya gerakan janin (janin normal bergerak lebih dari 10 x / hari).
3)   Adanya air ketuban bercampur mekonium, warna kehijauan(jika bayi lahir dengan letak kepala).
b.    Cerebral palsy adalah gangguan yang mempengaruhi otot, gerakan, dan ketrampilan motorik (kemmpuan untuk bergerak dalam cara yang terkoordinasidan terarah)akibat dari rusaknya otak karena trauma lahir atau patologi intrauterin (Chuningham dkk, 2005).
2.6         Penanganan
Upaya –upaya sebelum tindakan pengakhiran kehamilan segera,sebagai berikut:
1.    Memposisikan ibu untuk menungging atau posisi tredelenbrug untuk mengurangi tekanan pada tali pusat.
2.    Mendorong bagian terendah janin kearah kranial untuk mengurangi tekanan pada tali pusat.
3.    Memantau terus denyut jantung dan pulsai tali pusat
4.    Resusitasi intrauterine melalui oksigenasi pada ibu
Penanganan tali pusat menurut lokasi/tingkat pelayanan
1.    Polindes:
a.    Lakukan VT jika ketuban sudah pecah dan bagian terbawah janin  belum turun.
b.    Jika teraba tali pusat, pastikan tali pusat masih berdenyut atau dengan meletakkan tali pusat diantara dua jari.
c.    Lakukan resposisi tali pusat. Jika berhasil usahakan bagian terbawah janin memasuki bagian rongga panggul dengan menekan fundus uteri dan usahakan dengan segera persalinan pervaginam.
d.   Suntikkan terbulatin 0,25 mg subkutan.
e.    Dorong keatas bagian terbawah janin dan segera rujuk ke puskesmas atau langsung ke rumah sakit.
2.    Pukesmas:
a.    Penanganan sama seperti diatas
b.    Jika persalinan pervaginam tidak mungkin dilaksanakan segera rujuk kerumah sakit.
3.    Rumah Sakit:
a.    Lakukan evaluasi/penanganan seperti diatas
b.    Jika persalinan pervaginam tidak mungkin terjadi segera lakukan SC. (Winkjosastro, 2007).


DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary, dkk. 2006. Obstetri Williams. Jakarta: EGC

    Saifuddin, Abdul Bari. 2008. Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBBSP

Winkjosastro, Hanifa.2005 Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta:YBBSP

Winkjosastro, Hanifa.2005 Ilmu Kebidanan. Jakarta:YBBSP


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar